Mengenal Sosok Mbah Sarijo Moeljoredjo, Seorang Saksi Hidup Imigran Terakhir di Suriname

Jakarta - Di Kota Mongo, Suriname, hidup seorang pria tua bernama Sarijo Moeljoredjo. Sehari-hari, dia biasa dipanggil Mbah Sarijo. Berdasarkan tulisan yang tertuang dalam situs Islandofimagination.id pada tahun 2016, saat itu Mbah Sarijo telah berusia 96 tahun.

Di usianya yang senja, Mbah Sarijo masih tampak kuat bekerja di kebun pisang di belakang rumah. Namun yang lebih mengagumkan lagi, ingatannya masih kuat untuk bercerita tentang perjalanan hidupnya.

Berdasarkan Arsip Nasional Belanda, Sarijo lahir di Desa Puluan, Distrik Pedes, Bantul, Yogyakarta. Pada 26 Juli 1931, dia ikut kedua orang tuanya berangkat ke Paramaribo, Suriname dari Pelabuhan Semarang. Saat itu usianya masih 10 tahun.

Kini, dia menjadi orang tertua sekaligus menjadi saksi hidup terakhir di Kota Mongo, satu dari 32.962 orang Jawa yang pernah diangkut Belanda ke Suriname.

"Aku lahir di Desa Puluan. Itu adalah negara Jawa. Tapi aku tak tahu pasti di mana itu,"kata Mbah Sarijo, mengutip dari Islandofimagination.id. Berikut selengkapnya: 

Tinggal di Depo

Mbah Sarijo bercerita, sebelum dia dan keluarganya diberangkatkan ke Suriname, dia terlebih dahulu ditempatkan di depo penampungan Semarang. Depo itu seperti penjara raksasa. Luasnya sebesar 100x100 meter yang dikelilingi tembok setinggi 3 meter dengan satu pintu keluar.

Di dalam tembok itu ada rumah-rumah kayu yang menjadi tempat tinggal mereka. Di sana mereka mendapat pasokan makan tiap hari. Kalau ada permintaan pekerja di Suriname, mereka diberangkatkan dengan kapal.

Mbah Sarijo tak ingat berapa lama ia tinggal di depo itu. Dia hanya ingat, suatu hari menjelang senja, ia bersama ribuan orang lainnya diangkut oleh sebuah kapal raksasa dengan panjang 128 meter. Di dalam kapal itu, orang-orang menggelar tikar sebagai tempat tidur di lantai, kemudian tidur berjajar-jajar seperti ikan panggang.

Perjalanan Menuju Suriname

Mbah Sarijo ingat, dalam perjalanan itu, kapal Simaloer yang mengangkutnya bersama ribuan orang lainnya berhenti di Jakarta, Aceh, di Afrika untuk mengisi air, lalu berhenti semalam di Belanda, dan selanjutnya melintasi Samudra Atlantik menuju Suriname.

Dalam perjalanan selama 40 hari itu, ada kalanya mereka melihat barisan ikan besar yang berenang bersama kapal, ikan lumba-lumba, dan kadang pula ikan hiu. Walaupun sehari-hari yang mereka lihat hanyalah hamparan laut tak berujung, para imigran itu tidak pernah bosan.

Mereka saling berbagi cerita tentang pengalaman masing-masing. Mereka pun penuh semangat karena di tanah yang dituju mereka percaya akan dapat kerja dan memperoleh banyak uang.

Namun Mbah Sarijo ingat dalam perjalanan itu banyak para imigran yang kemudian menderita sakit seperti panas, influenza, ataupun mabuk laut. Beberapa di antaranya bahkan meninggal, entah karena rasa sedih atau sakit yang dideritanya. Sepanjang perjalanan itu, Mbah Sarijo setidaknya menyaksikan lima orang meninggal yang jenazahnya diceburkan ke laut. 

Kehidupan di Surniame

Pada usia 13 tahun, Mbah Sarijo ditinggal sang ayah yang meninggal dunia. Karena itulah, ia harus keluar dari sekolah dan membantu ibunya. Tiap jam 7 pagi, diasudah berangkat dari rumahnya untuk membabat rumput. Kalau rajin, dia bisa memperoleh sebanyak 120 sen sehari.

Setiap hari, hidup Mbah Sarijo adalah kerja dan kerja. Berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya. Pada tahun 1942, dia bekerja sebagai kuli pembangun jalan. Tahun 1944, dia bekerja di pertambangan sampai pensiun pada tahun 1981. Hingga di hari tuanya, Mbah Sarijo hidup sebatang kara dan tidak dikaruniai anak.

Pandangan Mbah Sarijo tentang Jawa

Ketika ditanya tentang "Negara Jawa" Mbah Sarijo mengaku tidak ada hal yang ia ridukan dari tanah kelahirannya itu. Lagi pula, ia mengaku tak banyak kenangan yang ia dapatkan saat hidup di Jawa.

Kenangan yang masih ia ingat adalah Kali Progo yang tak pernah berhenti mengalir, gunung gamping yang mengeluarkan asap panas, serta pohon manggis yang ia panjat dan ia peluk erat-erat ketika ketakutan saat pertama kali melihat pesawat terbang.

"Tidak ada yang aku kangeni dari Negara Jawa. Di sini semua sama dengan di sana. Hidup di sana malah lebih susah. Orang mesti kerja di kebun, jual sendiri, untuk bisa dapat makan. Kalau di sini cuma kerja di kebun sudah bisa dapat makan,"kata Mbah Sarijo, mengutip dari Islandofimagination.id.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beberapa Penyebab Kawasan Eropa Kembali Menjadi Episentrum Pandemi Covid-19 Terparah di Dunia

Seorang Pria Nebraska Memakan Daging Mentah Untuk Menu Dietnya Selama 3 Tahun Dan Tak Ada Rencana Untuk Berhenti

Sejarah 'Tugu Peringatan' di Hutan Tangale, Gorontalo