Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Mengetahui Peristiwa 30 September 1999, Sebuah Insiden Kecelakaan Nuklir Tokaimura di Jepang

Jakarta - Pada 30 September 1999, tiga pekerja Jepang mengalami kecelakaan nuklir. Mereka mendapat radiasi dosis tinggi di pabrik kecil Jepang yang menyiapkan bahan bakar untuk reaktor eksperimental. Kecelakaan itu disebabkan penyatuan terlalu banyak uranium yang diperkaya ke tingkat yang relatif tinggi. Dilansir situs World Nuclear, hal ini menyebabkan apa yang disebut dengan istilah "kritis", yakni reaksi berantai nuklir terbatas yang tidak terkendali, yang berlanjut selama 20 jam. Sebanyak 119 orang menerima dosis radiasi lebih dari 1 mSv dari kecelakaan itu, tetapi hanya dosis ketiga operator yang berada di atas batas. Dua dari penerima dosis ini terbukti fatal. Menurut Badan Energi Atom Internasional, penyebab kecelakaan itu adalah "kesalahan manusia dan pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip keselamatan. "Insinden yang akhirnya dikenal sebagai Kecelakaan Tokaimura 1999 ini, terjadi di pabrik persiapan bahan bakar kecil yang dioperasikan JCO (s...

Sebuah Peristiwa Kekejaman Yang Terjadi Saat Insiden Madiun 1948

Jakarta - Bentrok antara kaum komunis dengan pasukan pemerintah menjadikan korban nyawa berjatuhan. Kekejaman pun dilakukan kedua pihak yang bertikai. Asikin Rachman, masih ingat kejadian pagi itu. Sebagai komandan seksi, awalnya dia diperintahkan untuk merebut satu kampung yang diidentifikasi sebagai basis Tentara Merah, sebutan untuk pasukan yang mendukung Front Demokrasi Rakyat/Partai Komunis Indonesia (FDR/PKI) yang dipimpin Musso dan Amir Sjarifudin). "Dari pusat kota Madiun, kami bergerak ke pinggiran dan langsung melakukan pengepungan wilayah yang akan kami serang,"kenang eks anggota Batalyon Husinsyah, kesatuan yang berada di bawah Divisi Siliwangi tersebut. Alih-alih mendapat sambutan, Seksi Asikin justru mendapatkan situasi begitu mencekam. Tak ada sama sekali tanda-tanda kehidupan di sana. Dalam gerak perlahan, pasukan lantas memasuki kampung itu hingga di sisi suatu parit besar. Begitu melongok, terkejutlah mereka. Nampak tumpukan mayat rakyat s...

Mengetahui Noken, Sebuah Tas Unik Yang Menandakan Kedewasaan Seorang Wanita

Jakarta - Papua memiliki beragam budaya dan kerajinan tangan. Salah satu kriya khas Papua yang terkenal adalah noken. Noken adalah sejenis tas yang digunakan sebagai aksesoris. Hasil kerajinan tangan ini biasa digunakan oleh para perempuan Suku Dani sebagai aksesoris yang diselempangkan di kening dan belakang kepala. Dilansir dari Perhiasan Tradisional Indonesia karya Husni dan Siregar, noken Papua terbuat dari serat kayu yang dianyam menyerupai kalung. Noken berfungsi sebagai tempat menyimpan dan membawa bahan makanan, atau sebagai gendongan bayi. "Berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan, gendongan bayi, juga diyakini sebagai kehidupan dan kesuburan,"tulis Husni dan Siregar.   Jenis bahan baku noken Papua Jenis bahan baku noken cukup beragam tergantung daerah tempat kerajinan tersebut dibuat. Bahan yang berbeda juga membuat bentuk dan warnanya beragam. "Tiap suku di Papua memiliki keunikan dalam pembuatan noken baik dari bahan baku, bentuk ...

Mengenal Sejarah Tari Remo, Sebuah Tarian Untuk Menyambut Para Tamu Yang Datang

Jakarta - Tari Remo adalah salah satu kesenian yang berasal dari Jawa Timur. Tari tradisional ini merupakan tarian untuk menyambut tamu yang ditampilkan secara perorangan atau pun kelompok. Dilansir Ensiklopedi Tari Indonesia yang disusun oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tari Remo di daerah Madura juga disebut dengan Tok-otok. Tarian ini biasanya ditampilkan oleh para penari perempuan. "Penari-penarinya adalah perempuan, akan tetapi kadang-kadang juga pria dengan dandanan wanita. Mereka disebut 'tanda',"tulis Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Lebih lanjut, tari Remo disebut bersifat spontan. Artinya, gerakan tari menyesuaikan irama gending serta menciptakan suasana akrab, gembira, dan meriah. Tari Remo biasa dipentaskan pada tiap acara perjamuan yang bertalian dengan perkawinan, khitanan, kaulan atau sekadar berpesta.   Sejarah Tari Remo Sejarah kemunculan tari Remo di Jawa Timur berkaitan erat dengan berkembangnya kesenian Ludruk di wilay...

Mengenal Sejarah Satu Suro yang Sudah Ada Sejak Jaman Kerajaan Mataram Islam

Jakarta - Tahun ini, perayaan Satu Suro jatuh pada 10 Agustus 2021, meski hari libur nasionalnya digeser menjadi 11 Agustus. Dalam merayakan pergantian Tahun Baru Jawa atau Tahun Baru Islam ini, biasanya masyarakat Jawa melakukan sejumlah ritual dan tradisi pada malam hari sebelumnya. Melansir pada Sabtu (31/8/2019), di Kota Surakarta terdapat tradisi Kirab Kebo Bule. Beberapa ekor kebo bule yang merupakan pusaka Keraton Surakarta Hadiningrat akan diarak keliling kota. Sebagian masyarakat Surakarta dikatakan percaya bahwa kerbau-kerbau tersebut merupakan turunan dari Kebo Bule Kiai Slamet yang dianggap keramat. Kendati demikian, bagaimana awal mula dan sejarah terjadinya perayaan malam satu suro atau malam Tahun Baru Hijriah?   Sejarah peringatan malam satu suro Penetapan satu suro sebagai Tahun Baru Jawa telah dilakukan sejak zaman Sultan Agung Hanyakrakusuma atau yang dikenal sebagai Sultan Agung. Ia merupakan Sultan Kerajaan Mataram Islam pada 1613-1645 dan mendapa...