Sebuah Peristiwa Kekejaman Yang Terjadi Saat Insiden Madiun 1948
Jakarta - Bentrok antara kaum komunis dengan pasukan pemerintah menjadikan korban
nyawa berjatuhan. Kekejaman pun dilakukan kedua pihak yang
bertikai.
Asikin Rachman, masih ingat kejadian pagi itu. Sebagai komandan seksi,
awalnya dia diperintahkan untuk merebut satu kampung yang diidentifikasi
sebagai basis Tentara Merah, sebutan untuk pasukan yang mendukung Front
Demokrasi Rakyat/Partai Komunis Indonesia (FDR/PKI) yang dipimpin Musso
dan Amir Sjarifudin).
"Dari pusat kota Madiun, kami bergerak ke pinggiran dan langsung
melakukan pengepungan wilayah yang akan kami serang,"kenang eks anggota
Batalyon Husinsyah, kesatuan yang berada di bawah Divisi Siliwangi
tersebut.
Alih-alih mendapat sambutan, Seksi Asikin justru mendapatkan situasi
begitu mencekam. Tak ada sama sekali tanda-tanda kehidupan di sana.
Dalam gerak perlahan, pasukan lantas memasuki kampung itu hingga di sisi
suatu parit besar.
Begitu melongok, terkejutlah mereka. Nampak tumpukan
mayat rakyat sipil hampir memenuhi seisi parit. Rerata tubuh-tubuh itu
dipenuhi lubang tembakan. Bau anyir darah memenuhi udara. "Jumlahnya sekitar seratus mayat, terdiri dari laki-laki dan perempuan,"ungkap kakek asal Tasikmalaya yang lahir pada 1924 itu.
Kesaksian atas kebrutalan Tentara Merah juga pernah dikisahkan oleh
Gadis Rasid, jurnalis perempuan asal tabloid Mingguan Siasat. Suatu
hari, Gadis tengah mengikuti pergerakan Batalyon Kian Santang pimpinan
Mayor Sambas Atmadinata di Madiun.
Saat memasuki sebuah kampung bernama
Gorang-Gareng, tetiba dia dikejutkan oleh teriakan seorang prajurit di
depannya. "Tolong! Tolong! Palang Merah harap segera datang!"serunya.
Secara refleks, Gadis lantas berlari mengikuti langkah cepat para
petugas Palang Merah dan sang prajurit. Mereka memasuki komplek pabrik
gula, menuju sebuah rumah besar. Begitu sampai di depan pintu, Gadis
menyaksikan tubuh manusia saling bertumpuk dengan genangan darah yang
masih segar di lantai.
Ada yang meraung-raung dengan usus terburai, ada pula yang sudah tak bernyawa dengan wajah yang tak berupa lagi karena dipenuhi darah. Dari keterangan saksi dan korban yang masih hidup, didapatkan informasi bahwa orang-orang itu adalah pegawai negeri, guru sekolah, polisi dan tentara yang menolak untuk ikut Tentara Merah.
Beberapa saat sebelum
Siliwangi menyerbu, mereka masih sempat ditembaki secara membabi buta
oleh para pengikut FDR/PKI. "Beberapa malam setelah (kejadian) itu, saya selalu mimpi menakutkan,"ujar Gadis seperti dituturkan kepada Amy Wahyu dalam Femina No. 16 Tahun
1987.
Namun kekejaman yang sama juga kerap dilakukan pihak tentara pemerintah
terhadap orang-orang FDR/PKI yang tertangkap. Dalam biografinya
Bertarung dalam Revolusi, Kemal Idris menyebut jika banyak tawanan
FDR/PKI yang dihabisi begitu saja saat interogasi.
Salah satu nama algojo pembunuh para tawanan itu adalah Kolonel Moestopo, Panglima Kesatuan Reserve Umum ke-10 Divisi Siliwangi. Kemal masih ingat, Moestopo memiliki cara sendiri untuk menginterogasi para tawanan PKI yang tertangkap di wilayah Cepu.
Kepada setiap tawanan,
dia akan meminta seratus nama anggota PKI. Itu jelas sangat sulit,
karena alih-alih seratus orang, untuk menyebutkan 20 orang saja
kemungkinannya mereka tak akan ingat. Maka otomatis sebagian besar para
tawanan itu harus ikhlas didor kepalanya oleh Moestopo.
Kemal yang merupakan pimpinan operasi tidak suka dengan cara barbar
seperti itu. Dalam suatu kesempatan, dia kemudian mengajak Moestopo yang
sejatinya lebih tinggi pangkatnya itu, untuk berbicara baik-baik.
"Kolonel, siapa sebenarnya yang menjadi komandan gerakan ini?"tanya Kemal yang saat itu berpangkat mayor.
"Kamu-lah!"jawab Moestopo acuh tak acuh.
"Kalau saya yang menjadi komandan, saya tidak ingin cara pembunuhan tawanan seperti ini,"ujar Kemal.
"Oke,"kata Moestopo sambil berlalu.
Dalam bukunya, Madiun 1948: PKI Bergerak, Harry A. Poeze malah pernah
mempublikasikan sepuluh foto yang memperlihatkan cara sebuah kesatuan
dari Divisi Siliwangi mengeksekusi tawanan PKI di Magetan.
Untuk
menghemat peluru, para tawanan yang diikat secara berbanjar itu kemudian
ditusuk dengan bayonet satu persatu hingga jatuh ke lubang yang
sebelumnya digali oleh mereka sendiri.
Menurut sejarawan asal Belanda tersebut, cara-cara penyelesaian secara
sadis itu adalah lumrah di zamannya. Bahkan (masih di Magetan), pihak
tentara pernah melakukan penyiksaan terhadap seorang algojo PKI bernama
Sipon, sebelum akhirnya dia dihabisi dengan senjata tajam di hadapan
khalayak (termasuk di hadapan anak-anak kecil).
Lantas berapakah sebenarnya jumlah nyawa yang menjadi korban dalam Insiden Madiun 1948? "Belum jelas benar hingga kini. Tapi ada versi yang menyebut itu ada di kisaran angka 8000 orang,"ungkap Poeze dalam suatu wawancara dengan saya di Jakarta.
Komentar
Posting Komentar