Kisah Lucu Tentang Intel Yang Menyamar Sebagai Penjual Rokok, Bertemu Jenderal Refleks Beri Hormat
Jakarta - Saat bertugas aparat intelijen sering menyamar menjadi penjual bakso
hingga rokok. Sambil pura-pura berjualan, mereka mengawasi targetnya.
Ada kisah menarik yang dialami Jenderal Hoegeng saat memergoki intel
yang sedang bertugas. Kisah ini terjadi setelah sang polisi jujur ini
pensiun sebagai Kapolri.
Dalam buku Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan yang ditulis Suhartono dan
diterbitkan Penerbit Buku Kompas, diceritakan Hoegeng mendapat ancaman
pembunuhan.
Jenderal Anton Soedjarwo yang saat itu menjabat Kapolri,
berinisiatif mengirim personel polisi untuk mengawal Hoegeng. Awalnya
Hoegeng menolak, namun Polri tetap memaksa karena khawatir jika ancaman
tersebut nyata.
Hoegeng pun luluh. Namun dia menetapkan sejumlah syarat.
"Pengawalan tidak boleh mencolok dan jangan membatasi aktivitas dengan
keluarga,"kata Putra kedua Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng.
Tak lama setelah itu, di depan rumah Hoegeng di Jalan Madura, Jakarta
Pusat, tiba-tiba berdiri sebuah warung rokok. Hoegeng pun
mengeceknya.
Saat Hoegeng mendekat, penjaga warung dan beberapa orang di sana malah
langsung refleks memberi hormat. Ternyata mereka adalah intel-intel
Polri yang ditugaskan untuk mengawal Hoegeng.
Para 'penjual rokok' itu tidak lama berada di sana. Hoegeng merasa keberatan dan meminta mereka untuk pergi.
Selama bertugas, Jenderal Hoegeng beberapa kali menjadi target
pembunuhan. Saat dinas di Medan memerangi para penyelundup dan bandar
judi, Hoegeng dikabarkan pernah menjadi target penembak jitu. Namun
Hoegeng berhasil lolos.
Walau menghadapi banyak ancaman, Hoegeng selalu menolak dikawal. Dia
juga tak mau ada pos jaga yang sering disebut 'gardu monyet' di depan
rumahnya.
"Hidup Hoegeng berserah saja, tak perlu dikawal-kawal. Kalau Hoegeng mau
mati, ya mati saja. Tidak usah pakai penjaga atau pengawal di rumah,"tegas Hoegeng.
Komentar
Posting Komentar