Tugas Tentara Indonesia Memburu Kapten Westerling

Jakarta - Setelah sempat saling adu tembak dengan tentara Indonesia di Pelabuhan Tanjungpriok, Kapten Westerling akhirnya bisa meloloskan diri ke Singapura.

Senin, 23 Januari 1950. Usai membuat kericuhan di jantung kota Bandung, APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) mundur ke arah Padalarang.

Dari sana, mereka lantas bergerak menuju Jakarta dengan menggunakan lima truk dan satu Jeep.

Namun baru sampai di wilayah Cipeuyeum, Ciranjang dan Cikalong, pasukan yang terdiri dari campuran unit Baret Hijau, Baret Merah, KNIL dan Polisi Negara Pasundan itu dijegal oleh Batalion H Divisi Siliwangi.

"Mereka terkepung dan kocar-kacir, bahkan sebagian nekat menerjunkan dirinya ke jurang-jurang yang ada di wilayah hutan-hutan Maleber," tulis Kolonel (purn) Mochamad Rivai dalam Tanpa Pamrih, Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Tidak jauh berbeda dengan anak buahnya, Kapten R.P.P. Westerling (pimpinan gerakan APRA) juga ada dalam kondisi terjepit pasca aksi yang dilakukannya di Bandung.

Dia lantas menyusul pasukannya ke Jakarta dengan dikawal ajudan setianya bernama Pim Colsom dan dua anggota Polisi Negara Pasundan.

Untuk mengelabui aparat keamanan RIS (Republik Indonesia Serikat), sang kapten menggunakan tiga mobil yang dia tumpangi secara bergantian di tiap titik tertentu.

Perburuan Westerling

Westerling lantas hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Salah satu rumah yang pernah disinggahinya adalah rumah milik seorang Belanda di bilangan Kebon Sirih.

Di tengah pelariannya itulah, dia dikabarkan beberapa kali mengadakan rapat gelap dengan Sultan Hamid II, salah seorang tokoh terkemuka professional federalisme.

"Mereka bertemu di suatu tempat yang letaknya sekarang ada di sekitar Jalan Expert, Jakarta Pusat," ujar Salim Said, pengamar politik militer yang pernah mewawancarai Westerling secara langsung di Belanda pada 1970-an.

Awal Februari 1950, jaringan APRA di Jakarta mulai terkuak. Diawali dengan tewasnya Letnan Kolonel Rappard dalam pengepungan para aparat APRIS.

Tewasnya Rappard membuat gerak Westerling semakin terjepit dan. Maka disusunlah sebuah rencana pelarian ke luar negeri yang melibatkan beberapa pejabat tinggi militer dan sipil Belanda.

Suatu siang, pelarian Westerling pun diatur. Rencananya dia akan diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjungpriok.

Ternyata informasi itu bocor ke kalangan intelijen APRIS. Maka dikirimlah grup pemburu Westerling di bawah pimpinan Mayor Brenthel Soesilo.

Salah satu anggota grup itu adalah Letnan Dua J.C. Princen, eks serdadu Belanda yang membelot ke kubu Republik Indonesia.

Menurut Princen, kehadiran Westerling di sekitar Pelabuhan Tanjungpriok sebenarnya sudah terpantau sejak Kamis, 23 Februari 1950.

Dalam informasi yang dikirim agen intelijen lapangan, Westerling bergerak ke arah Pelabuhan Tanjung Priok dengan sebuah Jeep militer dan dikawal beberapa lelaki bersenjata.

"Kami lalu mengutus Letnan Dua Supardi dan Letnan Dua Kesuma untuk mengejar Westerling ..." ungkap Princen.

"Intelijen kami mengidentifikasi mobil-mobil itu masing-masing berpelat nomor wilayah Bandung dan Jakarta: D 1067, D 1373, B 16107," ungkap Rivai.

Lompat ke Laut saat Terjadi Adu Tembak

Menjelang malam, bergeraklah kedua perwira pertama APRIS itu ke Pelabuhan Tanjungpriok dengan menggunakan sebuah Jeep Willys.

Tepat di pintu gerbang Pelabuhan II, kendaraan mereka justru berpapasan dengan kendaraan yang ditumpangi Westerling.

Alih-alih menghindar, Westerling yang saat itu menggunakan seragam KNIL berpangkat sersan, malah menghentikan mobil lalu turun mendekati Supardi dan Kesuma.

"Orang gila itu malah mengajak kedua letnan tersebut singgah di satu bar dan minum bir ..." kenang Princen.

Tentu saja ajakan itu ditampik. Salah satu dari letnan APRIS itu malah meminta Westerling untuk singgah sebentar ke sebuah pos tentara APRIS di dekat pelabuhan. Tak dinyana, Westerling setuju.

Dia lantas menaiki mobilnya dan meminta Kesuma dan Supardi berjalan duluan. Namun belum 100 meter bergerak, tiba-tiba serentetan tembakan menyalak menghajar Jeep yang dikendarai para aparat APRIS itu hingga terjungkal seketika.

Mobil Westerling kemudian berbalik kembali ke arah pelabuhan dan berjalan dengan kecepatan tinggi.

Mengetahui kedua rekannya diserang, Mayor Brenthel Soesilo dan Letnan Princen langsung memburu Westerling.

Maka terjadilah adu tembak yang sangat seru di Pelabuhan II Tanjung Priok. Di tengah pertempuran kecil itulah, Westerling sempat melarikan diri dengan cara loncat ke laut dan berenang menuju sebuah pesawat Catalina milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda.

Singkat cerita, loloslah Westerling sampai ke Singapura. Karena alasan masuk tanpa surat izin, sesampai di Singapura, Westerling ditahan pihak keamanan Inggris.

Begitu mendapat kabar tersebut, Pemerintah RIS langsung meminta kepada otoritas Inggris di Singapura untuk mengekstradisi Westerling Indonesia.

Namun dengan alasan dia merupakan warga negara Belanda, Hakim Evans dari Pengadilan Tinggi Singapura tidak mengindahkan permohonan itu.

Westerling 'ditahan' untuk sementara di Singapura. Baru pada Agustus 1950, dia 'diusir' dan dengan didampingi oleh Konsul Jenderal Belanda untuk Singapura, Mr. R. van der Gaag, dia terbang menuju Eropa dan mendarat di Brussel, Belgia.

Dari sana, Westerling bisa kembali pulang ke tanah airnya. Dia disambut bak pahlawan, hingga karena pola hidupnya yang tidak sehat, pada 1987 Westerling akhirnya menghembuskan napasnya yang terakhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beberapa Penyebab Kawasan Eropa Kembali Menjadi Episentrum Pandemi Covid-19 Terparah di Dunia

Seorang Pria Nebraska Memakan Daging Mentah Untuk Menu Dietnya Selama 3 Tahun Dan Tak Ada Rencana Untuk Berhenti

Sejarah 'Tugu Peringatan' di Hutan Tangale, Gorontalo